Senin, 14 Januari 2013

Happily Ever After


Lanjutan Cerita Pendek Sekali dan Cerita Pendek Sekali Lagi ...... tapi jangan ketawa baca endingnya... bukan lelucon, cuma buat garing-garingan aja :p

Gadis itu menatap pria di depannya dengan malu-malu. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Duduk bersama menanti makanan yang sudah mereka pesan untuk makan siang. Bedanya dulu lokasinya di kantin sekolah dan sekarang di sebuah restaurant mewah yang letaknya dekat dengan pegunungan tempat mereka melakukan kegiatan outbond kantornya. Masih mereka. Radit dan Masayu.

Radit yang masih bertubuh tegap dengan alis tebalnya, kini mengenakan kaus putih polos yang lebih memamerkan bentuk tubuhnya.  Ditambah celana pendek hitam yang membuatnya tampak lebih santai, tidak seperti biasa yang selalu menggunakan kemeja lengan panjang plus jas kerja yang sesekali dipakainya, kadang dengan dasi kadang juga tidak.

Hari ini hari terakhir outbond yang dilakukan untuk menjalin keakraban antar rekan kerja. Masayu yang merupakan penulis lepas di media itu juga wajib ikut memeriahkan acara. Benar. Akhirnya ia diterima bekerja sebagai penulis lepas di media tersebut karena tulisan-tulisan yang dibuatnya dianggap menarik dan menambah penjualan majalah tersebut dari hari ke hari.

“Hm… bagaimana kabarmu?” ujar si pria memulai percakapan.

“Saya baik, Pak” jawab si gadis sambil menyunggingkan senyum simpulnya.

“Gila ya kamu, masih aja panggil saya bapak, lupa lagi sama saya?” balasnya sambil terbahak.

“Ya saya ga enak aja… kan kamu nya sekarang jadi atasan saya”

“Sekarang kan ga lagi di kantor”

“Tapi tetep  aja acara kantor”

“Kamu itu, masih aja kayak dulu, ngeyel”

“Mmmm….”

“Tapi itu yang buat saya kangen sama kamu”

Si gadis sontak mendongak ke arah si pria lalu terdiam lama.

“Tapi kamunya yang ga kangen sama saya” lanjut si pria.

Si gadis pura-pura tak mendengar. Ia memandang langit di depannya sambil mengetukkan  jarinya sesekali di meja makan. Tak lama kemudian pelayan datang mengantar pesanan mereka. Mereka makan dalam diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Si gadis terlalu takut untuk memulai. Ia takut nantinya akan berharap lebih dan kembali jatuh seperti dulu.

***

Dia. Hanya seorang masayu. Gadis yang biasa-biasa saja. Rambutnya kali ini diikat ke atas menyerupai ekor kuda, namun beberapa helai dibiarkannya menjuntai di balik telinganya. Kakinya terus melangkah mengikuti beberapa rekan kerja yang juga ikut hiking pagi itu, sambil sesekali mengusap peluhnya yang mulai menetes di dahinya. Ia beberapa kali berhenti untuk mengabadikan suasana di sana dengan kamera pocket yang dibawanya.

Ia kembali berjalan sambil merapatkan sweaternya berkali-kali. Udara pagi itu masih menusuk tulang tapi keringatnya tetap saja keluar akibat pendakian kecil yang dilakukannya.

“Pakai ini saja….” Ujar seseorang dari belakang sambil menyampirkan selapis jaket tebal di bahunya. Ia menoleh perlahan. Lagi-lagi Radit.

“Eh, jangan, biar aja…” tolak Masayu. Tapi si pria memaksa dan akhirnya mereka berjalan beriringan. Rombongan pendaki lain tampak jauh mendahului mereka di depan.

“Bener nih, kamu ga ada kangen-kangennya sama saya?” Tanya si pria sambil mengenggam tangan si gadis yang kedinginan.

“Menurutmu?” balas si gadis. Ia langsung menghentikan langkahnya dan menatap pria itu dalam-dalam.

“Bertahun-tahun saya nyariin kamu, tapi ga pernah ada kabarnya” balas si pria.

“Buat apa?”

“Kamu marah sekali ya sama saya?”

“Buat apa saya marah?”

“Oke, berarti kamu marah”

“Engga, saya ga marah sama kamu, saya marah sama diri saya sendiri” jelas si gadis.

Si pria balas menatap. Mereka terdiam. Lama.

“Saya marah karena saya terlalu berharap sama diri saya sendiri” lanjut si gadis menjelaskan.

“Berharap apa?”

“Sudahlah, kita tertinggal jauh” si gadis mengingatkan sambil berjalan mendahului si pria, namun langkahnya tertahan oleh tarikan tangan si pria.

“Saya sayang sama kamu” ujar si pria. “Selama ini saya kayak orang gila karena ga bisa ketemu sama kamu”

“Saya ga kemana-mana kok”

“Saya tahu, tapi saya terlalu takut buat ngejelasin semuanya”

“Sudah lama sekali…..”

“Tapi saya tetep ga bisa ga sayang sama kamu…. Saya pengen kita ulang dari awal….”

“Kita ga pernah pisah kok,,, kita kan memang sahabatan”

“Saya pengen lebih dari itu. Saya pengen kamu jadi masa depan saya…”

“Kamu lucu… jangan bercandain saya segitunya deh”

“Saya serius, Masayu” kali ini ia mengenggam kedua tangannya sambil bertatapan.

“Ciyus??? Miapah??” balas si gadis sambil tertawa pelan.
Si pria mendelik tak sabar sambil tersenyum lebar. 
“Saya anggap itu Iya” ujar si pria sambil mengacak rambut si gadis. Lalu menggandeng tangannya menyurusi perbukitan yang mulai terjal. 
Matahari tampak mulai naik yang menandakan hari makin siang. Mereka berjalan beriringan sampai garis finish melewati tanjakan dan turunan serta beberapa ranting pohon yang menghalangi perjalanan mereka. Seperti perjalanan hidup yang akan mereka hadapi. Ada tanjakan dan turunan. Ada suka juga duka. Namun terus berjalan menghadapinya bersama. Dengan harapan bahagia pada akhinya. Happily Ever After. 



"Happily Ever After"


[Case]
Guess what I did today
Those were the words I said to you
It was last May, don't know the exact day
In my hand there was a ring
And you told me that you loved me
More than anything in your life
And I asked you would you do me
The honor of being my wife (yes I will)
I will be your man, your protector, your best friend
'Til my humble life is ended
Then time begins again (couldn't we)

Couldn't we please be happily ever after

We can be strong together for so long (our love goes strong so long)
Couldn't we please be happily ever after (couldn't we be, baby)
Leaving you never stays forever strong

[Case]

When I was away (umm...hmm)
Some friends became just faces
Some people grew apart
But you stayed right in my heart
In so many times, could picture this day inside my mind
And for so many years, ooh
I knew it would be you here with me, ooh (yes I will)
Take you for my wife, the center of my life
And I will never ever fade
From this choice I've made, ooh...oh

Couldn't we please be happily ever after (come on)

We could be strong together for so long (said my love is strong)
Couldn't we please be happily ever after (Couldn't we please baby)
Leaving you never stays forever strong (hey...ooh...hey yeah)

You don't have to look no further than me (don't look no further, baby yeah)

You don't need much more than my lovin' to make you happy (I'm so happy I'm so happy, babe)
Beneath the side of God, I will make this vow to you (come on baby)
I'll be right here, stay with me (stay with me, baby hey)

Couldn't we please be happily ever after (Said I wanna be...said I wanna be)

We could be strong together for so long (Our love is...)
Couldn't we please be happily ever after (Couldn't we please baby)
Leaving you never stays forever strong (No, No...Said No, No I will never leave you, ooh)

Selasa, 11 Desember 2012

aku dan kamu, bukan kita lagi

Kelamaan kesimpen di draft, tapi dibuang sayang.... jadi ya dipublish aja ya walau hasilnya ga oke2 bgt... 


Suasana bandara kali itu begitu ramai akibat beberapa penerbangan yang mengalami keterlambatan. Aku memilih tempat di sudut ruang tunggu bandara seperti biasa. Rasanya lebih mudah melihat sekeliling tanpa terlihat, juga menyembunyikan mataku yang mulai sembap. Aku marah pada diriku yang marah-marah, juga pada emosiku yang melunjak-lunjak. Aku sedih pada diriku yang terus menangis, mungkin karena pertengkaran itu, bisa juga karena perpisahan ini.
Aku melirik arlojiku sekali lagi dan menyadari pesawatku delay dan baru akan berangkat satu setengah jam lagi. Ah, terlalu lama jika harus duduk begini saja, apalagi dengan ruangan yang mulai penuh sesak. Kuputuskan untuk menunggu lebih lama di salah satu kedai kopi disana. Walaupun tempatnya hampir terisi penuh, namun aku berhasil menemukan satu kursi kosong di sudut ruangan itu.
Aku memesan Hot Chocolate karena kebetulan aku bukan penggemar berat kopi, aku hanya suka aromanya. Entahlah, rasanya menenangkan. Itu saja.
Aku membuka ipadku dan seperti biasa hanya melihat-lihat social media, mengeluhkan beberapa hal, berkomentar pada status-status yang lain, dan hal remeh temeh lainnya sementara bau kopi mulai melesak memenuhi hidungku, memenuhi otakku dan mengingatkanku padamu. Ah! kau si penggemar kopi. Aku tau kau tidak bisa hidup tanpa kopi juga rokokmu... setiap bangun tidur, bahkan saat akan tidur pun kau butuh kopi. Semua ini mengingatkanku pada kejadian siang itu....hari ketika aku menyadari semuanya sudah terlambat.
--------------------------------

Siang itu cuaca cukup bersahabat, tidak panas namun tidak hujan. Aku menikmati siangku dengan menonton televisi sambil sesekali membuka-buka social media sampai bel pintu berbunyi dan kulihat seorang pria paruh baya dengan sekeranjang bunga di depannya.
"ada apa, pak?" sapaku siang itu.
"ini,bu ada kiriman" balasnya sambil menyerahkan bunga itu dan tanda terima untuk kutanda tangani.
"eh, dari siapa ya?" tanyaku, karena memang tidak ada hari yang istimewa untukku ataupun keluargaku hari ini.
"nanti buka aja katanya, bu" jawabnya sambil menunjukkan kepingan DVD di sela-sela bunga tersebut. Aku mengangguk pelan, menandatangani tanda terima lalu mempersilahkan pria itu untuk kembali. Pikiranku berkecamuk tanpa tau siapa si pengirim bunga tersebut, aku takut, aku bingung harus bereaksi apa setelah melihatnya. Mungkin isinya tulisan, atau video, atau film, ah... entahlah.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat aku menyalakan DVD player di kamarku dan memutar isinya. Sangat simpel sebenarnya. Hanya berisi tiga video klip dari tiga band terkenal di Indonesia. Tanpa embel-embel pembuka ataupun tulisan si pengirim. Tapi aku tahu itu kamu, kamu yang selama ini memenuhi pikiranku, kamu yang selalu membuatku takut entah pada apa. Takut kehilangan, takut kecewa, hingga takut pada diriku dan keegoisanku.
Aku menontonnya berulang tanpa tahu harus melakukan apa, hanya bisa menatap layar televisi yang masih menayangkan video itu berulang kali. Ketika akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubungimu, semuanya sudah berlalu. Kau sudah kembali ke tempatmu. Dan aku tetaplah di tempatku. Dan akhirnya hanya ada aku juga kamu, bukan kita.


Selasa, 04 Desember 2012

Semacam Galau

Hai... kali ini kembali pada 'masa'ku yang biasa... masaku yang tidak penuh dengan kegalauan juga tidak dilimpahi kebahagiaan besar. Mungkin karena bisa dibilang ini masa sibukku. Bukan! aku tidak sibuk dengan pemikiran-pemikiran masa depanku (walau kadang iya), tapi aku hanya fokus pada pekerjaan-pekerjaanku. Walau kini aku tidak harus kuliah setiap malam, tapi aku bersyukur masih banyak hal yang harus kukerjakan. Paling tidak semua itu membuatku 'menikmati'nya, menjadi diriku sendiri yang sendirian.
Jujur, aku sering merindukannya, mungkin setiap hari, atau setiap saat.... tapi kali ini aku bisa menghadapinya... aku bisa menghadapi kehidupanku yang memang begini.

Aku bangun pagi - ke kantor untuk bekerja - ke proyek yang harus kutempuh berkilo-kilo meter - lalu pulang saat senja - kemudian kelelahan  - dan istirahat. Begitu hampir setiap hari.
Tapi aku senang...
aku senang Tuhan...
aku senang menjadi AKU
aku senang menjalaninya...
aku senang aku sudah berubah
aku senang aku bukanlah si gadis galau itu lagi...
 aku senang bisa menikmati semuanya...
aku hanya ingin kau membuatku sabar seperti ini saja...
itu cukup buatku...
Terima Kasih...
atas semua ini.

Senin, 29 Oktober 2012

Cerita Pendek Sekali Lagi

Cerita ini adalah lanjutan dari Cerita Pendek Sekali yang saya unggah beberapa waktu lalu....tepatnya 15 Desember 2011

Gadis itu memeluk bukunya erat sambil berjalan di sela-sela keramaian pusat kota siang itu. Matanya terus sibuk mencari partner kerja yang akan ditemuinya. Sesekali ia melirik jam tangannya untuk memastikan ia tidak terlambat lagi kali ini. Ia memang agak sibuk belakangan ini akibat beberapa kerja tambahan yang diambil untuk penghasilan tambahannya.
" Bruk!!!" tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang di depannya tanpa sengaja. Tubuh pria itu tinggi besar. Jauh di atasnya. Wajah itu. Ya, pria itu lagi. Wajah yang tidak mungkin dilupakannya. Wajah pria yang diam-diam pernah dicintainya semasa SMA. Pria yang dulunya pernah menjadi sahabat yang melindungi namun juga menyakiti saat persahabatan bukan lagi sekedar persahabatan. Atau paling tidak begitulah yang dirasakan si gadis.
Masayu. Gadis yang masih sama seperti dulu. Berambut ikal namun kini ia memilih memanjangkan poninya dan menyelipkan di ujung telinganya. Rambutnya masih panjang dan dibiarkan tergerai rapi di belakang punggungnya.
Postur badannya tidak terlalu bertambah. Masih mungil dengan tinggi 155 cm dan berat 47 kg. Kali ini ia lebih tinggi akibat kewajibannya menggunakan high heels yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang.

"Maaf" ujar si gadis sambil mengambil beberapa naskah yang tercecer akibat kejadian itu. Pria itu ikut membantu.
'Semoga dia tidak melihatku' pikir gadis itu sambil mengambil beberapa kertas dan buku dari tangan pria itu. Tangan kanannya dengan cekatan mengacak poninya yang mulai panjang dan membuatnya menutupi wajahnya yang memerah.
"Terima kasih" ujar gadis itu lagi sambil tersenyum, masih menunduk dan bergegas pergi.
"Masayu?" tebak pria itu. 'Ternyata dia melihatku. Paling tidak, ternyata dia masih mengenalku' pikir gadis itu lagi.
" Hai" balas si gadis sambil tersenyum.
"Apa kabar?" tanya si pria
"Baik, seperti biasa" balas si gadis sambil melirik jam tangannya yang berwarna cokelat.
"Awalnya kupikir itu bukan kamu... Hey! kemana poni itu?" candanya sambil mengacak bagian depan rambut si gadis.
"Sudah panjang" jelas gadis itu sambil merapikan poninya dan menyelipkannya lagi ke belakang telinga.
"Buru-buru?" tanya si pria.
Namanya Raditya. Pria dengan tinggi 175 cm, rambut lurus yang sengaja dimodel acak seperti potongan jaman sekarang dan berkulit kecokelatan. Pria itu mengenakan kemeja biru muda dengan dasi biru gelap,  celana kain hitam dan sepatu pantovel layaknya para karyawan lain di daerah sana.
" Iya, duluan ya, ada wawancara kerja part time" senyum si gadis sambil melambai pelan. Lalu menghilang di balik kerumunan pekerja yang lain.
Ia mempercepat langkahnya, secepat degup jantungnya dan berharap si pria tidak lagi melihatnya.
Hampir lima tahun mereka tidak saling bertemu. Setelah si pria memutuskan untuk berpacaran dengan primadona di sekolahnya kala itu, hubungan mereka merenggang. Entah karena kesibukan masing-masing atau karena mereka yang saling menghindar. Begitulah 'kabar baik' yang akhirnya terjadi. Masayu memutuskan untuk pindah keluar kota selepasnya SMA dengan alasan jurusan yang ia pilih tidak ada di kotanya saat itu. Walaupun sebenarnya ia hanya ingin membuang jauh mimpi-mimpinya bersama Raditya.


Gedung itu berdinding putih bersih dengan dua pilar di depannya. Masayu mempercepat langkah kecilnya menuju receptionist untuk menjelaskan kedatangannya pagi itu.
"Tunggu di lantai tiga ya, si Bapak belum datang, seperti macet di jalan" jelas gadis yang duduk di belakang meja receptionist. Masayu mengangguk sambil tersenyum dan segera menunggu di tempat yang dimaksud setelah sebelumnya mampir ke kamar mandi perempuan untuk merapikan penampilannya yang tadinya acak-acakan.
Ia menunggu di ruang tunggu ruangan yang bertuliskan 'Direktur Utama' sebuah majalah ternama di negara itu. Ia bermaksud menjadi penulis lepas agar bisa menghasilnya tambahan-tambahan kecil dalam keuangannya.
"Silahkan masuk, Bapak sudah di dalam" sapa si sekretaris sambil membukakan pintu untuknya. Ia berjalan pasti sambil memeluk berkas dan tulisannya erat-erat. Ia langsung terpaku begitu melihat si pemilik ruangan yang duduk menghadapnya dengan tatapan sama kagetnya. Dia di sana. Radit. Lagi.
"Hai lagi" senyumnya. "Duduklah, aku ingin melihat tulisanmu" tambah pria itu.
"Hm... kupikir, um.... mungkin ini bukan ide bagus, yah aku baru belajar menulis, mungkin aku harus  mengedit beberapa kalimat dan... yah, ini berantakan sekali... hm... kupikir..."
"Biar kulihat dulu" potongnya.
Si gadis ragu-ragu namun tetap menyerahkan salah satu map yang berisi tulisannya. Tanyannya gemetar dan mulai basah. Map itu menggantung lama sebelum disambar dengan pelan oleh si pria.
"Duduklah" tambahnya lagi.
Si pria menatap gadis itu dengan rindu. Sudah berapa lama ia menghilang begitu saja? Hanya bisa dilihat lewat facebook yang diam-diam sering dilihatnya. Hanya bisa tenang setelah melihat status-statusnya yang bahagia dan begitu khawatir tanpa bisa berbuat apa saat statusnya bermasalah. Ia memang tak pernah punya hak untuk gadis itu.
Ia membuka map itu perlahan dan langsung tertegun begitu melihat judul tulisan yang bercetak tebal itu.
"Aku dan Pria SMA ku"
Si pria tersenyum geli, sekaligus lega tapi tetap bertanya-tanya.
"Kuharap ini tentang aku" ujarnya lirih sambil menatap wajah gadis di depannya yang mulai merona.
Si gadis hanya tersenyum malu, berusaha untuk tidak berlari seketika itu juga.

bersambung...

Kamis, 25 Oktober 2012

Hai, Manado

Manado, 17 Oktober 2012
Aku terbangun sebelum pukul lima pagi seperti biasanya. Memang tidak langsung mandi ataupun bersiap untuk hari ini, toh tidak ada yang mengejarku. Biasanya aku membuka kembali novel yang sebelumnya kubaca atau menyalakan dvd player untuk menonton serial korea yang sedang kuikuti, atau juga sekedar melihat-lihat isi facebook, twitter dan instagram ku.
Kali ini aku hanya bangun untuk mematikan AC yang membuat tubuhku serasa membeku lalu menyalakan televisi di kamar hotelku.
Hotel Aryaduta merupakan salah satu hotel bintang empat yang letaknya di kota Manado. Salah satu sumber mengatakan bahwa perjalanan dari Bandara Sam Ratulangi ditempuh sekitar 30 menit, namun aku dan si pak sopir hanya perlu waktu sekitar 20 menit karena sudah larut malam dan melewati jalan besar dan beberapa jalan tikus.
Aku mendapat kamar di lantai 9 dengan kota Manado sebagai pemandangan dari jendela. Malam itu suasana temaram akibat gerimis yang baru saja mengguyur kota itu. Kaca jendela kamarku tertutup air hujan yang membuatnya terasa lebih sejuk.
 
Hotel Aryaduta tampak depan
Lobby Depan
Hari kedua......
Hari itu tidak ada yang terlalu istimewa, karena hari itu aku hanya mengikuti acara sosialisasi. Salah satu atasanku merupakan salah satu narasumber pagi itu sehingga aku harus ikut menyiapkan hal-hal kecil yang masih diperlukan. Kuhabiskan sarapanku dengan cepat dan segera menyusul ke lantai 6 tempat diadakannya pelatihan.
View Lantai 6, kolam renang dan laut
Pelatihan berakhir sekitar pukul 06.30 malam dan akupun bersiap menikmati malam di kota itu. Beruntung aku punya teman yang bersedia menjadi tour guide semalam ku.
Dia bilang Manado bukan kota yang besar, bahkan lebih kecil dari Denpasar.
"Tempatnya ya segini-segini aja" teriaknya sambil mengatasi suara kendaraan di sebelah kami. Malam itu jalanan tampak basah akibat hujan pada siang harinya, namun tidak menyurutkan niat penduduk kota untuk sekedar nongkrong di tempat-tempat tertentu. Kali ini aku tidak memilih mall (seperti biasa) untuk tujuanku. Aku bilang padanya aku ingin tempat yang terkenal-terkenal saja.
Jadi, kami melihat pohon natal yang sempat menjadi pohon natal tertinggi se-asia, setelah sebelumnya menyantap sop babi yang memang terkenal di daerah itu.
Nah, itu pohon natalnya (walau ini unduhan dari internet)

Pohon natal jika dilihat dari dekat
Kami melanjutkan perjalanan ke salah satu patung yesus yang besar di kota itu.
"Aku tak tahu apa ini terkenal, tapi banyak orang yang ke tempat ini untuk sekedar mengambil foto" jelasnya. Aku merapatkan jaketku karena udara mulai terasa dingin. Jalanan mulai sepi. Aku mengambil beberapa foto yang bisa kuambil karena hari sudah malam dan aku tidak bisa naik ke atas bukit untuk mendapat view yang lebih baik.
ini patungnya :D
Nah, karena sudah pukul sembilan malam, kami segera ke tempat oleh-oleh untuk kubawa pulang. Setelah itu kami kembali ke hotel dan berakhir sudah perjalananku.

Manado... terima kasih :)

Rabu, 24 Oktober 2012

Catania

Lagi-lagi soal Italia. Kenapa?
Mungkin karena saya sangat ingin berwisata kesana namun belum juga kesampaian... (ya jelas,,, secara itu bukan lagi Asia dan sudah barang tentu harus merogoh kantong dalam-dalam yang saat ini sangat tidak memungkinkan untuk dilakukan).
Kali ini tentang Catania. Salah satu kota di negara tersebut (biar ga bosen ngomongin soal Roma melulu) yang tak kalah indah dengan kota lainnya. Walau hanya melihat dari situs-situs internet, yah cukup memuaskan mata saya memandang... Cukuplah buat kali ini, entah bagaimana dengan nanti :)
Saya tidak menemukan cerita istimewa dari kota ini... Yang saya tahu kota ini letaknya di Italia... Hmmm... Sepertinya saya harus lebih sering googling agar lebih mengenal kota ini lebih jauh sebelum mempublikasikan kesenangan saya dengan kota ini. Sejujurnya, bukannya saya senang dengan kota ini... hanya saja salah satu teman saya mengatakan bahwa kota ini indah. Itu saja.
Tapi apapun soal italia saya suka, makanannya, penoramanya, keromantisannya.... Ah... Entah kapan. Walau sekarang hanya dia angan-angan, saya harap nanti bisa melihat dengan mata sendiri.

 Menurut Wikipedia,
Catania adalah kota terbesar kedua di Sisilia, Italia dengan populasi 306.464 jiwa. Ia juga adalah kota dengan tingkat kepadatan terbesar kedua di pulau itu dan adalah ibu kota Provinsi Catania.
Catania terletak pada 37° 31'U 15° 04'T di pesisir timur pulau Sisilia, setengah perjalanan antara Messina dan Siracusa dan berada pada kaki gunung berapi aktif Etna.
Catania didirikan pada abad ke-8 SM oleh penguasa Yunani yang dipimpin oleh Evarco. Kota ini dulu pernah bernama Ætna, seperti gunung berapi tersebut, sekitar  480–461 SM dan juga pernah dinamakan Katane. Ia kemudian dihancurkan oleh gempa bumi pada 1169 dan 1693 dan oleh aliran lava yang melewatinya menuju ke laut.
Kota ini telah tujuh kali dikubur oleh lava dalam sejarah, sehingga kota-kota kunonya terkubur di bawah lapisan tanah sekarang.

Gaya bangunan khas itali

ramai juga ya...
 Nah, kira-kira begitulah... saya tidak bisa menggambarkan keindahannya secara detail, karena saya sendiri memang belum pernah kesana. Jadi, saya unggah beberapa foto yang saya unduh dari internet saja, biar kita sama-sama tahu keindahannya :)

sampai lupa

 hai... sudah begitu lama... bukannnya aku tak ingin menulis lagi atau bagaimana... hanya saja terkadang aku tak punya waktu jika bisa dibil...