Aku memasuki kedai kopi itu dengan gamang. Aroma khas nya
kembali melesak memenuhi hidungku dan ada gelenyar aneh yang membuat jantungku
berdetak beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya. Aroma Kopi. Ingat tidak
pertama kali kau mengajakku ke kedai kopi yang sudah punya nama di Indonesia
bahkan di dunia sekalipun itu?. Jujur saja, itu kali pertama aku menjejakkan
kaki di sebuah kedai kopi. Atau begitulah seingatku. Aku lupa kopi apa yang
kupesan, atau mungkin hanya segelas cokelat dingin yang masih selalu jadi
favoritku sampai sekarang. Empat setengah tahun yang lalu. Nyaris lima tahun. Aku
masih ingat saat itu aku begitu mengidolakan Michael Buble dengan lagu barunya yang
bertajuk “Everything” saat itu. Aku jatuh cinta saat itu juga, bahkan pada
hari-hari sebelumnya, hari pertama kita bertemu lagi setelah
pertemuan-pertemuan sebelumnya yang aku pikir tidak akan pernah berarti buat
kita. Perasaanku masih sama seperti saat itu, ingatanku tentangmu pun tak
pernah berubah sekalipun. Aku pikir ini cinta. Begitukah?
Semalam aku membaca catatan harianku. Atau kalau bisa
kubilang itu buku harianku, walau aku tak menulisnya setiap hari. Semuanya
tentangmu. Bagaimana aku tergila-gila pada masa-masa awal dan penjajakan,
bagaimana aku berduka ketika kau marah, bagaimana aku begitu putus asa ketika
berbagai masalah menghantui kita berhari-hari bahkan berbulan-bulan jika aku
meneliti tanggalnya. Juga bagaimana sulitnya kita menghadapi apa yang tejadi
dan mengusahakan agar semua baik-baik saja. Ah! Aku rindu kamu. Sudah.
Sebenarnya hanya itu yang mau aku bilang.
Satu proses lagi dalam hidupku. Satu pelajaran berharga yang
mungkin nantinya bisa membuatku lebih baik atau hanya jadi kenangan yang
membuatku tersenyum di kemudian hari.
Pagi yang kelam. Aku menarik selimut hingga menutupi bagian
bawah wajahku. Huh! Dinginnya pagi ini. Malas sekali untuk beranjak ke tempat
kerjaku. Matahari seolah bersembunyi dan menjauh dariku. Ah! Jangan diingat
lagi. Tidak perlu dan tidak penting lagi. Itu hanyalah proses pendewasaan diri,
itu hanyalah proses yang harus kulalui dalam hidupku. Paling tidak sekarang aku
tahu bahwa aku tak boleh lagi memulai hal yang tak akan bisa kuselesaikan.
Berjalanlah dengan benar, melangkahlah hati-hati, jangan sampai terjatuh untuk
kesekian kali lagi.
Yang aku tahu sekarang bahwa kebahagiaan mereka jauh lebih
berarti dari apapun, lagipula aku toh tetap bahagia. Masa lalu hanyalah sebuah
memori kehidupan yang dialami setiap orang. Nanti pasti akan hilang sendiri
seiring berjalannya waktu.
Terima kasih, Kamu.
Yang selalu mengingatkanku ketika aku lupa.
Yang selalu menegurku ketika aku salah.
Yang selalu menemaniku ketika aku jatuh.
Yang selalu menenangkanku ketika aku takut.
Hai, kamu….
Berbahagialah… karena telah menjadi orang yang
membuat orang lain bahagia. Aku dan mereka.
setiap kisah pasti memiliki akhir
begitu juga dengan kami
tapi ini bukan akhir kisahku atau kisahnya
karena kami akan punya kisah masing-masing
aku dengan kisahku
dia dengan kisahnya
Saya yakin hampir sebagian besar masyarakat Indonesia
terutama pecinta dunia perfilman sudah menonton film yang satu ini. Habibie
Ainun. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata salah satu pemimpin Negara Indonesia
di jamannya.
Hari itu sebulan lalu sekitar tanggal 17 Desember 2012, saya
dan beberapa teman ikut meramaikan salah satu bioskop yang terletak di daerah
Kuta tepatnya di mall yang letaknya di depan antai Kuta, Beachwalk. Dengan
modal ‘tiket titip beli di temen’ itu akhirnya kami mendapat giliran menonton
pukul 19.00 Wita, dan kami harus berangkat 2 jam sebelumnya untuk
mengantisipasi kemacetan yang terjadi akhir pekan itu.
Akhirnya kami sampi 30 menit sebelum film dimulai akibat kemacetan
serta sulitnya mencari parkir di tempat itu, namun untunglah kami tidak
melewatkan apapun. Film yang berdurasi 118 menit tersebut sukses menghipnotis
saya malam itu. Dengan berbekal tissue dan beberapa camilan, saya begitu
menikmati semuanya seolah saya yang berada di film itu, entah sebagai Habibie
juga Ainun. Ah… siapa sih yang tidak terhipnotis dengan adegan-adegan itu? Apalagi
itu adalah kisah nyata yang memang benar terjadi…
Hm… saya jadi ingin seperti mereka. Ingin seperti
Habibie_Ainun. Mereka yang melewati hidup penuh dengan cinta dan kesetiaan
sampai akhir hidupnya. Mereka yang menjalani hidup tanpa pernah menyesal dengan
apapun yang mereka lewati, dan apapun yang mereka pilih. Itu bisa kan?
Berikut
ini kutipan isi surat Cintanya, yang saya petik dari http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/11/01/cinta-pertama-terakhir-pak-habibie-dalam-film-habibie-ainun-505191.html
:
Sebenarnya ini bukan tentang
kematianmu, bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada
pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah
giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak
sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan
kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku
menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku
serasa kosong melompong, hilang isi……
“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk
saya”
……Kau tahu sayang, rasanya seperti
angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh
kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau
ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi
rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang
baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku
kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah
mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku
arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada
untukku, dan sekarang kembali tiada.selamat jalan sayang, cahaya mataku,
penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
Lanjutan Cerita Pendek Sekali dan Cerita Pendek Sekali Lagi ...... tapi jangan ketawa baca endingnya... bukan lelucon, cuma buat garing-garingan aja :p
Gadis itu menatap pria di depannya dengan malu-malu. Rasanya
seperti kembali ke masa SMA. Duduk bersama menanti makanan yang sudah mereka
pesan untuk makan siang. Bedanya dulu lokasinya di kantin sekolah dan sekarang
di sebuah restaurant mewah yang letaknya dekat dengan pegunungan tempat mereka
melakukan kegiatan outbond kantornya. Masih mereka. Radit dan Masayu.
Radit yang masih bertubuh tegap dengan alis tebalnya, kini
mengenakan kaus putih polos yang lebih memamerkan bentuk tubuhnya. Ditambah celana pendek hitam yang membuatnya
tampak lebih santai, tidak seperti biasa yang selalu menggunakan kemeja lengan
panjang plus jas kerja yang sesekali dipakainya, kadang dengan dasi kadang juga
tidak.
Hari ini hari terakhir outbond yang dilakukan untuk menjalin
keakraban antar rekan kerja. Masayu yang merupakan penulis lepas di media itu
juga wajib ikut memeriahkan acara. Benar. Akhirnya ia diterima bekerja sebagai
penulis lepas di media tersebut karena tulisan-tulisan yang dibuatnya dianggap
menarik dan menambah penjualan majalah tersebut dari hari ke hari.
“Hm… bagaimana kabarmu?” ujar si pria memulai percakapan.
“Saya baik, Pak” jawab si gadis sambil menyunggingkan senyum
simpulnya.
“Gila ya kamu, masih aja panggil saya bapak, lupa lagi sama
saya?” balasnya sambil terbahak.
“Ya saya ga enak aja… kan kamu nya sekarang jadi atasan saya”
“Sekarang kan ga lagi di kantor”
“Tapi tetep aja acara
kantor”
“Kamu itu, masih aja kayak dulu, ngeyel”
“Mmmm….”
“Tapi itu yang buat saya kangen sama kamu”
Si gadis sontak mendongak ke arah si pria lalu terdiam lama.
“Tapi kamunya yang ga kangen sama saya” lanjut si pria.
Si gadis pura-pura tak mendengar. Ia memandang langit di
depannya sambil mengetukkan jarinya sesekali
di meja makan. Tak lama kemudian pelayan datang mengantar pesanan mereka. Mereka
makan dalam diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Si gadis terlalu takut
untuk memulai. Ia takut nantinya akan berharap lebih dan kembali jatuh seperti
dulu.
***
Dia. Hanya seorang masayu. Gadis yang biasa-biasa saja. Rambutnya
kali ini diikat ke atas menyerupai ekor kuda, namun beberapa helai dibiarkannya
menjuntai di balik telinganya. Kakinya terus melangkah mengikuti beberapa rekan
kerja yang juga ikut hiking pagi itu,
sambil sesekali mengusap peluhnya yang mulai menetes di dahinya. Ia beberapa
kali berhenti untuk mengabadikan suasana di sana dengan kamera pocket yang dibawanya.
Ia kembali berjalan sambil merapatkan sweaternya
berkali-kali. Udara pagi itu masih menusuk tulang tapi keringatnya tetap saja
keluar akibat pendakian kecil yang dilakukannya.
“Pakai ini saja….” Ujar seseorang dari belakang sambil
menyampirkan selapis jaket tebal di bahunya. Ia menoleh perlahan. Lagi-lagi
Radit.
“Eh, jangan, biar aja…” tolak Masayu. Tapi si pria memaksa
dan akhirnya mereka berjalan beriringan. Rombongan pendaki lain tampak jauh
mendahului mereka di depan.
“Bener nih, kamu ga ada kangen-kangennya sama saya?” Tanya si
pria sambil mengenggam tangan si gadis yang kedinginan.
“Menurutmu?” balas si gadis. Ia langsung menghentikan langkahnya
dan menatap pria itu dalam-dalam.
“Bertahun-tahun saya nyariin kamu, tapi ga pernah ada
kabarnya” balas si pria.
“Buat apa?”
“Kamu marah sekali ya sama saya?”
“Buat apa saya marah?”
“Oke, berarti kamu marah”
“Engga, saya ga marah sama kamu, saya marah sama diri saya
sendiri” jelas si gadis.
Si pria balas menatap. Mereka terdiam. Lama.
“Saya marah karena saya terlalu berharap sama diri saya
sendiri” lanjut si gadis menjelaskan.
“Berharap apa?”
“Sudahlah, kita tertinggal jauh” si gadis mengingatkan sambil
berjalan mendahului si pria, namun langkahnya tertahan oleh tarikan tangan si
pria.
“Saya sayang sama kamu” ujar si pria. “Selama ini saya kayak
orang gila karena ga bisa ketemu sama kamu”
“Saya ga kemana-mana kok”
“Saya tahu, tapi saya terlalu takut buat ngejelasin semuanya”
“Sudah lama sekali…..”
“Tapi saya tetep ga bisa ga sayang sama kamu…. Saya pengen
kita ulang dari awal….”
“Kita ga pernah pisah kok,,, kita kan memang sahabatan”
“Saya pengen lebih dari itu. Saya pengen kamu jadi masa
depan saya…”
“Kamu lucu… jangan bercandain saya segitunya deh”
“Saya serius, Masayu” kali ini ia mengenggam kedua tangannya
sambil bertatapan.
“Ciyus??? Miapah??” balas si gadis sambil tertawa pelan. Si pria mendelik tak sabar sambil tersenyum lebar. “Saya anggap itu Iya” ujar si pria sambil
mengacak rambut si gadis. Lalu menggandeng tangannya menyurusi perbukitan yang
mulai terjal. Matahari tampak mulai naik yang menandakan hari makin siang.
Mereka berjalan beriringan sampai garis finish melewati tanjakan dan turunan
serta beberapa ranting pohon yang menghalangi perjalanan mereka. Seperti
perjalanan hidup yang akan mereka hadapi. Ada tanjakan dan turunan. Ada suka
juga duka. Namun terus berjalan menghadapinya bersama. Dengan harapan bahagia
pada akhinya. Happily Ever After.
"Happily Ever After"
[Case]
Guess what I did today
Those were the words I said to you
It was last May, don't know the exact day
In my hand there was a ring
And you told me that you loved me
More than anything in your life
And I asked you would you do me
The honor of being my wife (yes I will)
I will be your man, your protector, your best friend
'Til my humble life is ended
Then time begins again (couldn't we)
Couldn't we please be happily ever after
We can be strong together for so long (our love goes strong so long)
Couldn't we please be happily ever after (couldn't we be, baby)
Leaving you never stays forever strong
[Case]
When I was away (umm...hmm)
Some friends became just faces
Some people grew apart
But you stayed right in my heart
In so many times, could picture this day inside my mind
And for so many years, ooh
I knew it would be you here with me, ooh (yes I will)
Take you for my wife, the center of my life
And I will never ever fade
From this choice I've made, ooh...oh
Couldn't we please be happily ever after (come on)
We could be strong together for so long (said my love is strong)
Couldn't we please be happily ever after (Couldn't we please baby)
Leaving you never stays forever strong (hey...ooh...hey yeah)
You don't have to look no further than me (don't look no further, baby yeah)
You don't need much more than my lovin' to make you happy (I'm so happy I'm so happy, babe)
Beneath the side of God, I will make this vow to you (come on baby)
I'll be right here, stay with me (stay with me, baby hey)
Couldn't we please be happily ever after (Said I wanna be...said I wanna be)
We could be strong together for so long (Our love is...)
Couldn't we please be happily ever after (Couldn't we please baby)
Leaving you never stays forever strong (No, No...Said No, No I will never leave you, ooh)
Hai... kali ini kembali pada 'masa'ku yang biasa... masaku yang tidak penuh dengan kegalauan juga tidak dilimpahi kebahagiaan besar. Mungkin karena bisa dibilang ini masa sibukku. Bukan! aku tidak sibuk dengan pemikiran-pemikiran masa depanku (walau kadang iya), tapi aku hanya fokus pada pekerjaan-pekerjaanku. Walau kini aku tidak harus kuliah setiap malam, tapi aku bersyukur masih banyak hal yang harus kukerjakan. Paling tidak semua itu membuatku 'menikmati'nya, menjadi diriku sendiri yang sendirian.
Jujur, aku sering merindukannya, mungkin setiap hari, atau setiap saat.... tapi kali ini aku bisa menghadapinya... aku bisa menghadapi kehidupanku yang memang begini.
Aku bangun pagi - ke kantor untuk bekerja - ke proyek yang harus kutempuh berkilo-kilo meter - lalu pulang saat senja - kemudian kelelahan - dan istirahat. Begitu hampir setiap hari.
Tapi aku senang...
aku senang Tuhan...
aku senang menjadi AKU
aku senang menjalaninya...
aku senang aku sudah berubah
aku senang aku bukanlah si gadis galau itu lagi...
aku senang bisa menikmati semuanya...
aku hanya ingin kau membuatku sabar seperti ini saja...
itu cukup buatku...
Terima Kasih...
atas semua ini.
Manado, 17 Oktober 2012
Aku terbangun sebelum pukul lima pagi seperti biasanya. Memang tidak langsung mandi ataupun bersiap untuk hari ini, toh tidak ada yang mengejarku. Biasanya aku membuka kembali novel yang sebelumnya kubaca atau menyalakan dvd player untuk menonton serial korea yang sedang kuikuti, atau juga sekedar melihat-lihat isi facebook, twitter dan instagram ku.
Kali ini aku hanya bangun untuk mematikan AC yang membuat tubuhku serasa membeku lalu menyalakan televisi di kamar hotelku.
Hotel Aryaduta merupakan salah satu hotel bintang empat yang letaknya di
kota Manado. Salah satu sumber mengatakan bahwa perjalanan dari Bandara Sam Ratulangi ditempuh sekitar 30
menit, namun aku dan si pak sopir hanya perlu waktu sekitar 20 menit karena sudah larut malam dan melewati jalan besar dan beberapa jalan tikus.
Aku mendapat kamar di lantai 9 dengan kota Manado sebagai pemandangan dari jendela. Malam itu suasana temaram akibat gerimis yang baru saja mengguyur kota itu. Kaca jendela kamarku tertutup air hujan yang membuatnya terasa lebih sejuk.
Hotel Aryaduta tampak depan
Lobby Depan
Hari kedua......
Hari itu tidak ada yang terlalu istimewa,
karena hari itu aku hanya mengikuti acara sosialisasi. Salah satu
atasanku merupakan salah satu narasumber pagi itu sehingga aku harus
ikut menyiapkan hal-hal kecil yang masih diperlukan. Kuhabiskan
sarapanku dengan cepat dan segera menyusul ke lantai 6 tempat
diadakannya pelatihan.
View Lantai 6, kolam renang dan laut
Pelatihan berakhir sekitar pukul 06.30 malam dan akupun bersiap menikmati malam di kota itu. Beruntung aku punya teman yang bersedia menjadi tour guide semalam ku.
Dia bilang Manado bukan kota yang besar, bahkan lebih kecil dari Denpasar.
"Tempatnya ya segini-segini aja" teriaknya sambil mengatasi suara kendaraan di sebelah kami. Malam itu jalanan tampak basah akibat hujan pada siang harinya, namun tidak menyurutkan niat penduduk kota untuk sekedar nongkrong di tempat-tempat tertentu. Kali ini aku tidak memilih mall (seperti biasa) untuk tujuanku. Aku bilang padanya aku ingin tempat yang terkenal-terkenal saja.
Jadi, kami melihat pohon natal yang sempat menjadi pohon natal tertinggi se-asia, setelah sebelumnya menyantap sop babi yang memang terkenal di daerah itu.
Nah, itu pohon natalnya (walau ini unduhan dari internet)
Pohon natal jika dilihat dari dekat
Kami melanjutkan perjalanan ke salah satu patung yesus yang besar di kota itu.
"Aku tak tahu apa ini terkenal, tapi banyak orang yang ke tempat ini untuk sekedar mengambil foto" jelasnya. Aku merapatkan jaketku karena udara mulai terasa dingin. Jalanan mulai sepi. Aku mengambil beberapa foto yang bisa kuambil karena hari sudah malam dan aku tidak bisa naik ke atas bukit untuk mendapat view yang lebih baik.
ini patungnya :D
Nah, karena sudah pukul sembilan malam, kami segera ke tempat oleh-oleh untuk kubawa pulang. Setelah itu kami kembali ke hotel dan berakhir sudah perjalananku.
"Udah tamat belum???"
Pertanyaan yang sering kali bikin saya dongkol sendiri jika diajukan kepada saya. sebelas dua belas sama pertanyaan "Udah Nikah Belum???" atau "Kapan Nikah?"
Pengen banget saya bilang kalau saya itu MASIH muda. heheheheh
Sebenernya memang bukan abege lagi (walau pengennya begitu), tapi masih muda kan buat nikmatin masa-masa yang katanya menyenangkan????
Huaaaah,,,, setelah berusaha sekuat tenaga sampe jungkir balik, tetep aja target saya Bulan Mei ini gak tercapai. Nyesel ga nyesel juga sih... jadi mesti nyisihin duit lagi buat bayar spp (maklum, udah ga mau dibayarin ortu lagi). Padahal udah rela-rela sering nolak kerjaan kantor yang kian menyiksa ini (hiks,,,lebay). Tapi yah... memang ini jalannya kali yaaaaa...
Saya banyak revisi setelah ujian hasil,,, jadi target yang pengennya diselesaiin satu minggu jadi nyaris sebulan karena harus analisis ulang... huft... pengen banget bilang ke dosen penguji "Kenapa ga bilang pas proposal aja pakkk???"
Memang yang tanggal 13 itu angka keramat... apalagi hari jumat.
Sempat teman saya berkomentar "Kenapa pilih tanggal itu???? 13 loh, awas sial" Namun saya yang memang ga mau percaya sama mitos-mitos bodoh itu akhirnya kena juga. Jadi tanggal sial buat saya, walau seminar hasil berjalan lancar jaya kelihatannya, tapi saya tau itu tidak.
Yah... beginilah...
Jadi saya sampai saat ini masih berkutat dengan yang namanya tesis... masih pacaran sama jurnal-jurnal statistik... masih sering nongkrongin tukang spss yang saya bayar buat nge-spss-in tesis saya...
Ya mau gimana lagi,,, saya kan bukan orang ekonomi yang sehari-harinya ngurusin soal statistik, jadi saya mesti belajar berkali-kali lipat walau terkadang suka diganggu sama Serial Drama Korea yang 1000 kali lebih menarik dibanding hal beginian
Mohon doanya aja ya... semoga aja kali ini lancar.. yang penting bahagian lah :p Hubungannya apa coba...
okelah... byebyebye dulu,..
Anak Pantai? Mungkin dulu bukan. Namun sejak saya ditempatkan pada bagian Sungai dan Pantai II di Balai Wilayah Sungai Bali-Penida yang khusus menangani masalah pantai, saya mulai menjadi anak pantai.
Saya suka pantai, jadi pas lah kalau saya ditempatkan di sini. Selain bekerja saya juga bisa menikmati apa yang saya suka.
Jujur sih, saya tak begitu suka dengan pekerjaan ini, selain harus panas-panasan, saya juga tak terlalu suka dalam hal bangunan-bangunan yang menurut saya cenderung kelaki-lakian. Kuliah di teknik sipil juga awalnya karena 'permintaan' orang tua. Yah, walau saya akui akhirnya saya bisa mendapat pekerjaan yang bisa dibilang membuat saya cukup 'mapan' #blushing
Baiklah, cerita saya kali ini mengenai survey yang saya lakukan dengan beberapa rekan kerja saya dalam rangka kajian lingkungan pengamanan pantai di Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Day 1
Berangkat hari kamis pagi, sehari setelah kepulangan saya dari liburan. Badan masih capai juga pegal-pegal, tapi tidak mengurungkan niat saya untuk bersemangat. Anggap saja liburan lanjutan :p
Pukul 07.00 pagi kami sudah berkumpul di kantor untuk berangkat bersama ke sanur, sarapan seadanya yang dilanjutkan ke Nusa Penida dengan kapal roro.
Sudah sampai Nusa Penida :)
Perjalana di Nusa Penida kami lewati dengan menyewa sebuah kendaraan terbuka yang memang mayoritas di sana. Rombongan menginap di Desa Ped tepatnya di depan Pura Dalem Ped yang sudah sering dikunjungi umat hindu yang bersembahyang di pura tersebut.
Feels Hot yakkk
Ke penginapan hanya untuk menaruh beberapa barang agar tidak memberatkan perjalan kami dan.... disinilah perjalanan yang sebenarnya dimulai.
Diawali dengan berkunjung ke kantor Kecamatan untuk pemberitahuan bahwa rombongan akan melakukan survey terkait rencana pekerjaan yang akan dilakukan.
Dilanjutkan dengan berjalan di pinggir pantai sesekali sambil mengambil dokumentasi beberapa bangunan yang rusak dan daerah yang perlu penanganan.
teteuuupp
Pukul setengah empat sore kami memutuskan untuk istirahat di penginapan sejenak demi mengumpulkan tenaga untuk sore harinya, sementara si sopir angkutan kami perbolehkan kembali karena sudah cukup berkendara untuk hari itu.
Pukul setengah lima sore kami melanjutkan perjalanan (kali ini benar-benar hanya jalan kaki) menyusuri pantai yang belum kami lewati. Terik matahari yang awalnya menyengat perlahan memudar seiring dengan lembayung senja yang mulai memenuhi langit sore itu. Kami terus berjalan sambil sesekali memunguti kerang kecil yang bersembunyi di balik pasir.
Beberapa anak yang menikmati segarnya air laut berteriak dari kejauhan.
"Hai miss... what is your name??"
Saya sampai terbahak mendengarnya. Ternyata gara-gara memakai topi besar ala wisatawan, juga rekan saya yang menggunakan kamera SLR dengan celana pendeknya juga tampat seperti wisatawan dari kejauhan.
Lovely sunset :)
melihat terbenamnya matahari
Begitulah hari pertama kami. Sekembalinya kami ke penginapan (sekitar pukul setengah tujuh malam), kami bersiap untuk bersembahyang ke Pura dan beristirahat untuk esok harinya. Day 2
Jadwal kami di hari itu adalah ke Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan yang kami tempuh dengan boat kecil untuk tujuh penumpang.