Kadang saya berpikir mengapa ini begini dan mengapa itu begitu
Sering juga saya berpikir mengapa saya begini dan mengapa dia begitu
Juga tidak jarang saya sibuk membayangkan hal-hal yang bisa terjadi pada saya nantinya
Tidak lelah saya mengupayakan segala cara demi mewujudkan apa yang saya inginkan.
Ambisius.
Ya! Mungkin bisa dibilang saya begitu.
Mungkin juga bisa dibilang saya egois.
Hanya saja ketika semua rencana saya gagal, ketika semua terasa berantakan, ketika saya sudah merasa cukup lelah sampai titik tertinggi, ketika saya memutuskan untukberhenti saja, DIA memberi saya hal lain.
Yah, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal-hal yang berbau CINTA.
Bukan waktu yang tepat untuk memusingkan hal-hal remeh tentang masa romantisme kehidupan atau apalah namanya.
Tidak apa-apa, Tuhan.
Selama kau masih mengingat saya, selama kau masih menganggap saya gadis kecilmu, selama saya masih bisa bahagia dengan apapun yang saya alami.
Saya mungkin tidak bisa berkata lebih banyak... karena apa yang saya dapatkan sudah lebih dari apa yang pantas saya dapatkan.
Terima Kasih, Tuhan.
Lagi sibuk ngapus2in data2 ga penting yang buat penuh Drive D komputer saya, eh nemuin tulisan ini...yang judul dokumennya "arie" entah buat sendiri ato sunting dari internet, tapi ijin share juga ya mba arie....
Seseorang yang mencintai anda, tidak bisa memberikan alasan
mengapa ia mencintai anda. Dia hanya tahu, bahwa dimatanya, anda adalah yang
terbaik.
Seseorang
yang mencintai anda, sebenarnya selalu membuat anda marah, jengkel ataupun
stres. Tapi ia tidak pernah melakukan sesuatu hal yang bodoh karena semua
yang dilakukannya adalah untuk kebaikan anda.
Seseorang
yang mencintai anda, jarang memuji anda, tapi sebenarnya jauh dalam lubuk
hatinya yang paling dalam, anda adalah yang terbaik yang dia inginkan.
Seseorang
yang mencintai anda, akan marah-marah atau mengeluh jika anda tidak membalas
pesannya atau telponnya, karena ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi
kepada anda.
Seseorang
yang mencintai anda, hanya menjatuhkan airmatanya di hadapan anda. Ketika anda
mencoba untuk menghapus air matanya, anda telah menyentuh hatinya, dimana
hatinya selalu berdegup, berdenyut dan bergetar untuk anda.
Seseorang
yang mencintai anda, akan mengingat setiap kata yang anda ucapkan, bahkan yang
tidak sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata-kata itu tepat waktunya.
Seseorang
yang mencintai anda, tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah, karena ia
tidak mau mengingkari janjinya. Ia ingin anda untuk mempercayainya dan ia ingin
memberikan hidup yang paling bahagia dan aman selama-lamanya.
Seseorang
yang mencintai anda, mungkin tidak bisa mengingat kejadian atau kesempatan
istimewa, seperti perayaan hari ulang tahun anda. Tapi ia mengetahui bahwa
setiap detik yang ia lalui bahwa ia mencintai anda dan tidak peduli hari apakah
hari ini
Seseorang yang mencintai anda, tidak akan berkata cinta dengan
mudah, karena segala yang dilakukannya untuk anda adalah untuk menunjukkan
bahwa ia siap mencintai anda. Tetapi hanya ia yang akan mengatakan kata I Love
You pada situasi yang spesial, karena ia tidak mau anda salah mengerti, dia mau
anda mengetahui bahwa ia mencintai diri anda.
Seseorang
yang benar-benar mencintai anda, akan merasa bahwa sesuatu harus dikatakan
sekali saja karena ia berpikir bahwa anda telah mengerti dirinya. Jika berkata
terlalu banyak, ia akan merasa bahwa tidak ada yang akan membuatnya bahagia
ataupun tersenyum.
Seseorang
yang mencintai anda, akan pergi untuk menjemput anda, tapi dia tidak akan
membawa seikat mawar dan memanggil anda sayang seperti yang anda harapkan. Ia
akan selalu memperhatikan kondisi anda dengan ketulusan hatinya.
Seseorang
yang mencintai anda, tidak tahu apakah ia harus menelpon anda saat anda marah,
tapi ia akan mengirimkan pesan setelah beberapa jam. Karena jika ia menelpon
anda, di saat anda emosi, maka penjelasannya hanyalah dijadikan 'sampah'. Tapi
saat anda sudah tenang maka penjelasan yang diberikannya akan dicerna oleh
anda.
Seseorang
yang mencintai anda, akan selalu menyimpan semua benda yang telah anda berikan,
bahkan kertas kecil bertuliskan ‘ I LOVE U ‘ ada di dalam dompetnya.
Seseorang
yang mencintai anda, jarang mengatakan kata-kata manis. Tapi anda bisa
mengetahuinya saat ‘kecupannya’ sudah menyalurkan semua rasa.
Seseorang
yang mencintai anda akan selalu berusaha membuat anda tersenyum dan tertawa
meski terkadang dengan cara membuat anda bingung.
Seseorang
yang mencintai anda, akan membalut hati anda yang pernah terluka dan menjaganya
dengan setulus hati agar tidak terluka lagi. Ia akan memberikan anda yang
terbaik walau harus menyakiti hatinya sendiri.
Seseorang yang mencintai anda, akan rela
melepaskan anda pergi bila bersamanya anda tidak bahagia, ia pun akan turut
bahagia meski anda yang dicintainya bahagia bersama orang lain.
Saya yakin hampir sebagian besar masyarakat Indonesia
terutama pecinta dunia perfilman sudah menonton film yang satu ini. Habibie
Ainun. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata salah satu pemimpin Negara Indonesia
di jamannya.
Hari itu sebulan lalu sekitar tanggal 17 Desember 2012, saya
dan beberapa teman ikut meramaikan salah satu bioskop yang terletak di daerah
Kuta tepatnya di mall yang letaknya di depan antai Kuta, Beachwalk. Dengan
modal ‘tiket titip beli di temen’ itu akhirnya kami mendapat giliran menonton
pukul 19.00 Wita, dan kami harus berangkat 2 jam sebelumnya untuk
mengantisipasi kemacetan yang terjadi akhir pekan itu.
Akhirnya kami sampi 30 menit sebelum film dimulai akibat kemacetan
serta sulitnya mencari parkir di tempat itu, namun untunglah kami tidak
melewatkan apapun. Film yang berdurasi 118 menit tersebut sukses menghipnotis
saya malam itu. Dengan berbekal tissue dan beberapa camilan, saya begitu
menikmati semuanya seolah saya yang berada di film itu, entah sebagai Habibie
juga Ainun. Ah… siapa sih yang tidak terhipnotis dengan adegan-adegan itu? Apalagi
itu adalah kisah nyata yang memang benar terjadi…
Hm… saya jadi ingin seperti mereka. Ingin seperti
Habibie_Ainun. Mereka yang melewati hidup penuh dengan cinta dan kesetiaan
sampai akhir hidupnya. Mereka yang menjalani hidup tanpa pernah menyesal dengan
apapun yang mereka lewati, dan apapun yang mereka pilih. Itu bisa kan?
Berikut
ini kutipan isi surat Cintanya, yang saya petik dari http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/11/01/cinta-pertama-terakhir-pak-habibie-dalam-film-habibie-ainun-505191.html
:
Sebenarnya ini bukan tentang
kematianmu, bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada
pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah
giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak
sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan
kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku
menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku
serasa kosong melompong, hilang isi……
“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk
saya”
……Kau tahu sayang, rasanya seperti
angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh
kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau
ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi
rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang
baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku
kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah
mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku
arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada
untukku, dan sekarang kembali tiada.selamat jalan sayang, cahaya mataku,
penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
Lanjutan Cerita Pendek Sekali dan Cerita Pendek Sekali Lagi ...... tapi jangan ketawa baca endingnya... bukan lelucon, cuma buat garing-garingan aja :p
Gadis itu menatap pria di depannya dengan malu-malu. Rasanya
seperti kembali ke masa SMA. Duduk bersama menanti makanan yang sudah mereka
pesan untuk makan siang. Bedanya dulu lokasinya di kantin sekolah dan sekarang
di sebuah restaurant mewah yang letaknya dekat dengan pegunungan tempat mereka
melakukan kegiatan outbond kantornya. Masih mereka. Radit dan Masayu.
Radit yang masih bertubuh tegap dengan alis tebalnya, kini
mengenakan kaus putih polos yang lebih memamerkan bentuk tubuhnya. Ditambah celana pendek hitam yang membuatnya
tampak lebih santai, tidak seperti biasa yang selalu menggunakan kemeja lengan
panjang plus jas kerja yang sesekali dipakainya, kadang dengan dasi kadang juga
tidak.
Hari ini hari terakhir outbond yang dilakukan untuk menjalin
keakraban antar rekan kerja. Masayu yang merupakan penulis lepas di media itu
juga wajib ikut memeriahkan acara. Benar. Akhirnya ia diterima bekerja sebagai
penulis lepas di media tersebut karena tulisan-tulisan yang dibuatnya dianggap
menarik dan menambah penjualan majalah tersebut dari hari ke hari.
“Hm… bagaimana kabarmu?” ujar si pria memulai percakapan.
“Saya baik, Pak” jawab si gadis sambil menyunggingkan senyum
simpulnya.
“Gila ya kamu, masih aja panggil saya bapak, lupa lagi sama
saya?” balasnya sambil terbahak.
“Ya saya ga enak aja… kan kamu nya sekarang jadi atasan saya”
“Sekarang kan ga lagi di kantor”
“Tapi tetep aja acara
kantor”
“Kamu itu, masih aja kayak dulu, ngeyel”
“Mmmm….”
“Tapi itu yang buat saya kangen sama kamu”
Si gadis sontak mendongak ke arah si pria lalu terdiam lama.
“Tapi kamunya yang ga kangen sama saya” lanjut si pria.
Si gadis pura-pura tak mendengar. Ia memandang langit di
depannya sambil mengetukkan jarinya sesekali
di meja makan. Tak lama kemudian pelayan datang mengantar pesanan mereka. Mereka
makan dalam diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Si gadis terlalu takut
untuk memulai. Ia takut nantinya akan berharap lebih dan kembali jatuh seperti
dulu.
***
Dia. Hanya seorang masayu. Gadis yang biasa-biasa saja. Rambutnya
kali ini diikat ke atas menyerupai ekor kuda, namun beberapa helai dibiarkannya
menjuntai di balik telinganya. Kakinya terus melangkah mengikuti beberapa rekan
kerja yang juga ikut hiking pagi itu,
sambil sesekali mengusap peluhnya yang mulai menetes di dahinya. Ia beberapa
kali berhenti untuk mengabadikan suasana di sana dengan kamera pocket yang dibawanya.
Ia kembali berjalan sambil merapatkan sweaternya
berkali-kali. Udara pagi itu masih menusuk tulang tapi keringatnya tetap saja
keluar akibat pendakian kecil yang dilakukannya.
“Pakai ini saja….” Ujar seseorang dari belakang sambil
menyampirkan selapis jaket tebal di bahunya. Ia menoleh perlahan. Lagi-lagi
Radit.
“Eh, jangan, biar aja…” tolak Masayu. Tapi si pria memaksa
dan akhirnya mereka berjalan beriringan. Rombongan pendaki lain tampak jauh
mendahului mereka di depan.
“Bener nih, kamu ga ada kangen-kangennya sama saya?” Tanya si
pria sambil mengenggam tangan si gadis yang kedinginan.
“Menurutmu?” balas si gadis. Ia langsung menghentikan langkahnya
dan menatap pria itu dalam-dalam.
“Bertahun-tahun saya nyariin kamu, tapi ga pernah ada
kabarnya” balas si pria.
“Buat apa?”
“Kamu marah sekali ya sama saya?”
“Buat apa saya marah?”
“Oke, berarti kamu marah”
“Engga, saya ga marah sama kamu, saya marah sama diri saya
sendiri” jelas si gadis.
Si pria balas menatap. Mereka terdiam. Lama.
“Saya marah karena saya terlalu berharap sama diri saya
sendiri” lanjut si gadis menjelaskan.
“Berharap apa?”
“Sudahlah, kita tertinggal jauh” si gadis mengingatkan sambil
berjalan mendahului si pria, namun langkahnya tertahan oleh tarikan tangan si
pria.
“Saya sayang sama kamu” ujar si pria. “Selama ini saya kayak
orang gila karena ga bisa ketemu sama kamu”
“Saya ga kemana-mana kok”
“Saya tahu, tapi saya terlalu takut buat ngejelasin semuanya”
“Sudah lama sekali…..”
“Tapi saya tetep ga bisa ga sayang sama kamu…. Saya pengen
kita ulang dari awal….”
“Kita ga pernah pisah kok,,, kita kan memang sahabatan”
“Saya pengen lebih dari itu. Saya pengen kamu jadi masa
depan saya…”
“Kamu lucu… jangan bercandain saya segitunya deh”
“Saya serius, Masayu” kali ini ia mengenggam kedua tangannya
sambil bertatapan.
“Ciyus??? Miapah??” balas si gadis sambil tertawa pelan. Si pria mendelik tak sabar sambil tersenyum lebar. “Saya anggap itu Iya” ujar si pria sambil
mengacak rambut si gadis. Lalu menggandeng tangannya menyurusi perbukitan yang
mulai terjal. Matahari tampak mulai naik yang menandakan hari makin siang.
Mereka berjalan beriringan sampai garis finish melewati tanjakan dan turunan
serta beberapa ranting pohon yang menghalangi perjalanan mereka. Seperti
perjalanan hidup yang akan mereka hadapi. Ada tanjakan dan turunan. Ada suka
juga duka. Namun terus berjalan menghadapinya bersama. Dengan harapan bahagia
pada akhinya. Happily Ever After.
"Happily Ever After"
[Case]
Guess what I did today
Those were the words I said to you
It was last May, don't know the exact day
In my hand there was a ring
And you told me that you loved me
More than anything in your life
And I asked you would you do me
The honor of being my wife (yes I will)
I will be your man, your protector, your best friend
'Til my humble life is ended
Then time begins again (couldn't we)
Couldn't we please be happily ever after
We can be strong together for so long (our love goes strong so long)
Couldn't we please be happily ever after (couldn't we be, baby)
Leaving you never stays forever strong
[Case]
When I was away (umm...hmm)
Some friends became just faces
Some people grew apart
But you stayed right in my heart
In so many times, could picture this day inside my mind
And for so many years, ooh
I knew it would be you here with me, ooh (yes I will)
Take you for my wife, the center of my life
And I will never ever fade
From this choice I've made, ooh...oh
Couldn't we please be happily ever after (come on)
We could be strong together for so long (said my love is strong)
Couldn't we please be happily ever after (Couldn't we please baby)
Leaving you never stays forever strong (hey...ooh...hey yeah)
You don't have to look no further than me (don't look no further, baby yeah)
You don't need much more than my lovin' to make you happy (I'm so happy I'm so happy, babe)
Beneath the side of God, I will make this vow to you (come on baby)
I'll be right here, stay with me (stay with me, baby hey)
Couldn't we please be happily ever after (Said I wanna be...said I wanna be)
We could be strong together for so long (Our love is...)
Couldn't we please be happily ever after (Couldn't we please baby)
Leaving you never stays forever strong (No, No...Said No, No I will never leave you, ooh)
Kelamaan kesimpen di draft, tapi dibuang sayang.... jadi ya dipublish aja ya walau hasilnya ga oke2 bgt...
Suasana bandara kali itu begitu ramai akibat beberapa penerbangan yang
mengalami keterlambatan. Aku memilih tempat di sudut ruang tunggu
bandara seperti biasa. Rasanya lebih mudah melihat sekeliling tanpa
terlihat, juga menyembunyikan mataku yang mulai sembap. Aku marah pada
diriku yang marah-marah, juga pada emosiku yang melunjak-lunjak. Aku
sedih pada diriku yang terus menangis, mungkin karena pertengkaran itu, bisa juga karena perpisahan ini.
Aku melirik arlojiku sekali lagi dan menyadari pesawatku delay dan baru akan berangkat satu setengah jam lagi. Ah, terlalu lama jika harus duduk begini saja, apalagi dengan ruangan yang mulai penuh sesak. Kuputuskan untuk menunggu lebih lama di salah satu kedai kopi disana. Walaupun tempatnya hampir terisi penuh, namun aku berhasil menemukan satu kursi kosong di sudut ruangan itu.
Aku memesan Hot Chocolate karena kebetulan aku bukan penggemar berat kopi, aku hanya suka aromanya. Entahlah, rasanya menenangkan. Itu saja.
Aku membuka ipadku dan seperti biasa hanya melihat-lihat social media, mengeluhkan beberapa hal, berkomentar pada status-status yang lain, dan hal remeh temeh lainnya sementara bau kopi mulai melesak memenuhi hidungku, memenuhi otakku dan mengingatkanku padamu. Ah! kau si penggemar kopi. Aku tau kau tidak bisa hidup tanpa kopi juga rokokmu... setiap bangun tidur, bahkan saat akan tidur pun kau butuh kopi. Semua ini mengingatkanku pada kejadian siang itu....hari ketika aku menyadari semuanya sudah terlambat.
--------------------------------
Siang itu cuaca cukup bersahabat, tidak panas namun tidak hujan. Aku menikmati siangku dengan menonton televisi sambil sesekali membuka-buka social media sampai bel pintu berbunyi dan kulihat seorang pria paruh baya dengan sekeranjang bunga di depannya.
"ada apa, pak?" sapaku siang itu.
"ini,bu ada kiriman" balasnya sambil menyerahkan bunga itu dan tanda terima untuk kutanda tangani.
"eh, dari siapa ya?" tanyaku, karena memang tidak ada hari yang istimewa untukku ataupun keluargaku hari ini.
"nanti buka aja katanya, bu" jawabnya sambil menunjukkan kepingan DVD di sela-sela bunga tersebut. Aku mengangguk pelan, menandatangani tanda terima lalu mempersilahkan pria itu untuk kembali. Pikiranku berkecamuk tanpa tau siapa si pengirim bunga tersebut, aku takut, aku bingung harus bereaksi apa setelah melihatnya. Mungkin isinya tulisan, atau video, atau film, ah... entahlah.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat aku menyalakan DVD player di kamarku dan memutar isinya. Sangat simpel sebenarnya. Hanya berisi tiga video klip dari tiga band terkenal di Indonesia. Tanpa embel-embel pembuka ataupun tulisan si pengirim. Tapi aku tahu itu kamu, kamu yang selama ini memenuhi pikiranku, kamu yang selalu membuatku takut entah pada apa. Takut kehilangan, takut kecewa, hingga takut pada diriku dan keegoisanku.
Aku menontonnya berulang tanpa tahu harus melakukan apa, hanya bisa menatap layar televisi yang masih menayangkan video itu berulang kali. Ketika akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubungimu, semuanya sudah berlalu. Kau sudah kembali ke tempatmu. Dan aku tetaplah di tempatku. Dan akhirnya hanya ada aku juga kamu, bukan kita.
Hai... kali ini kembali pada 'masa'ku yang biasa... masaku yang tidak penuh dengan kegalauan juga tidak dilimpahi kebahagiaan besar. Mungkin karena bisa dibilang ini masa sibukku. Bukan! aku tidak sibuk dengan pemikiran-pemikiran masa depanku (walau kadang iya), tapi aku hanya fokus pada pekerjaan-pekerjaanku. Walau kini aku tidak harus kuliah setiap malam, tapi aku bersyukur masih banyak hal yang harus kukerjakan. Paling tidak semua itu membuatku 'menikmati'nya, menjadi diriku sendiri yang sendirian.
Jujur, aku sering merindukannya, mungkin setiap hari, atau setiap saat.... tapi kali ini aku bisa menghadapinya... aku bisa menghadapi kehidupanku yang memang begini.
Aku bangun pagi - ke kantor untuk bekerja - ke proyek yang harus kutempuh berkilo-kilo meter - lalu pulang saat senja - kemudian kelelahan - dan istirahat. Begitu hampir setiap hari.
Tapi aku senang...
aku senang Tuhan...
aku senang menjadi AKU
aku senang menjalaninya...
aku senang aku sudah berubah
aku senang aku bukanlah si gadis galau itu lagi...
aku senang bisa menikmati semuanya...
aku hanya ingin kau membuatku sabar seperti ini saja...
itu cukup buatku...
Terima Kasih...
atas semua ini.