Senin, 05 Mei 2014

Kau pasti akan datang, kan?

Kali ini aku lebih memilih sebuah Tea House dibanding kedai kopi yang terletak di sebelahnya. Bukan apa-apa, hanya saja perutku belum terisi apa pun sejak pagi tadi sedangkan waktu sudah melewati makan siang. Aku memilih tempat di sudut ruangan dengan sofa hijau daun dan meja cokelat kayu di depannya. Ruangan itu berdinding bata merah yang dibiarkan tanpa plesteran maupun acian. Salah satu dindingnya diberi wallpaper rumput dengan botol-botol minuman dan beberapa barang antik sebagai pajangan. 
Aku meneliti menu yang dibawakan salah satu pelayan dan langsung memesan apa yang kuinginkan. Tetap saja cokelat dingin yang menjadi pilihanku, bukan teh hijau atau minuman sehat lain yang juga tertera dalam menu. Sebagai pendamping cokelatku, aku memilih dimsum yang merupakan makanan ringan untuk mengisi lambungku. Ah, aku menunggumu begitu lama. Hingga malu rasanya aku berlama-lama menghabiskan waktuku sambil memainkan ponselku sedangkan aku hanya memesan sedikit makanan dan perutku rasanya belum mau diisi lagi. Tapi disinilah aku. Menunggu hingga kau datang menjemputku dengan senyummu yang sama. Kau akan selalu datang kan? 



Karena aku akan selalu menunggu....

Jumat, 28 Maret 2014

Ah! Aku Rindu Kamu!

Aku memasuki kedai kopi itu dengan gamang. Aroma khas nya kembali melesak memenuhi hidungku dan ada gelenyar aneh yang membuat jantungku berdetak beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya. Aroma Kopi. Ingat tidak pertama kali kau mengajakku ke kedai kopi yang sudah punya nama di Indonesia bahkan di dunia sekalipun itu?. Jujur saja, itu kali pertama aku menjejakkan kaki di sebuah kedai kopi. Atau begitulah seingatku. Aku lupa kopi apa yang kupesan, atau mungkin hanya segelas cokelat dingin yang masih selalu jadi favoritku sampai sekarang. Empat setengah tahun yang lalu. Nyaris lima tahun. Aku masih ingat saat itu aku begitu mengidolakan Michael Buble dengan lagu barunya yang bertajuk “Everything” saat itu. Aku jatuh cinta saat itu juga, bahkan pada hari-hari sebelumnya, hari pertama kita bertemu lagi setelah pertemuan-pertemuan sebelumnya yang aku pikir tidak akan pernah berarti buat kita. Perasaanku masih sama seperti saat itu, ingatanku tentangmu pun tak pernah berubah sekalipun. Aku pikir ini cinta. Begitukah?
Semalam aku membaca catatan harianku. Atau kalau bisa kubilang itu buku harianku, walau aku tak menulisnya setiap hari. Semuanya tentangmu. Bagaimana aku tergila-gila pada masa-masa awal dan penjajakan, bagaimana aku berduka ketika kau marah, bagaimana aku begitu putus asa ketika berbagai masalah menghantui kita berhari-hari bahkan berbulan-bulan jika aku meneliti tanggalnya. Juga bagaimana sulitnya kita menghadapi apa yang tejadi dan mengusahakan agar semua baik-baik saja. Ah! Aku rindu kamu. Sudah. Sebenarnya hanya itu yang mau aku bilang.


Where Rainbows End

Katanya mataku sembap. Ah, ya aku belum cerita ya kalau mataku punya sedikit masalah, bisa dibilang ia terlalu cepat bereaksi jika terjadi hal-hal kecil. Seperti menangis misalnya. Menangis sedikit saja bisa membuatnya terlihat seperti menangis berhari-hari dan hidup penuh dengan kesedihan sepanjang tahun. Oke, aku bohong lagi. Aku memang menangis semalam. Semalaman kalau bisa kutambahkan. Bukan, aku bukan menangisi diriku lagi. Kali ini aku membaca sebuah novel. Lucu memang. Entahlah, akhir-akhir ini hidupku berjalan begitu datar sampai-sampai aku sendiri lupa tentang berapa lama yang sudah kulewatkan dan bagaimana itu bisa terlewat begitu saja. Hari-hariku nyaris sama setiap hari dan isinya hanya tentang pekerjaan atau film yang sedang kutonton atau buku yang sedang kubaca. Bahkan aku tidak tertarik dengan gosip-gosip atau cerita miring yang sedang beredar di tempat kerjaku.
oke! aku akan kembali ke topik sebenarnya, karena kurasa aku sudah terlalu melantur jauh. Sebenarnya aku ingin membuat sebuah referensi tentang buka yang kubaca dua malam terakhir. Judulnya WHERE RAINBOWS END. Pengarang terkenal yang juga melejitkan novel berjudul Ps: I Love You ini memang sangat handal dalam menulis hal-hal kecil yang membuatmu menitikkaan air mata (setidaknya begitulah pendapatku). Cecilia Ahern.
Novel ini hanya berisi sekumpulan surat dan percakapan-percakapan yang dirangkum begitu apik oleh si penulis sehingga kita merasa menjadi salah satu pemeran utamanya. Kisah persahabatan Rosie dan Alex yang akhirnya menjadi cinta namun selalu terhalang oleh hal-hal mengejutkan sehingga mereka berukangkali melewatkan kesempatan untuk bersama. 
Hm, aku tak pandai menulis referenci buku memang, jadi sebaiknya kalian membaca sendiri bagaimana mendalamnya kisah itu. Bergumul dengan kejadian-kejadian masa lalu yang terbayang oleh rangkaian surat-surat singkat yang disuguhkan penulis. Tapi bersiaplah menghadapi emosi yang timbu ketika membacanya. 
Selamat membaca :) kalau kau memang pencinta fiksi romantis.


Selasa, 18 Februari 2014

Dear You

aku tetaplah seorang pencuri di matamu
sebaik apapun aku berbuat rasanya sia-sia saja
tapi seperti yang sering kau bilang padaku
terserah apa anggapanmu padaku
biar aku yang tau diriku sendiri
ya kan?
kau yang selalu bilang begitu padaku, kan?

Dear God

Aku sadar bahwa hidup bisa berubah seketika. Dalam hitungan menit bahkan detik.
Mungkin selama ini aku terlalu berharap banyak padamu.
Tapi aku tak mau membuatmu lebih sulit lagi.
Beri saja aku kekuatan untuk menghadapi semuanya.
Itu saja cukup.

Senin, 17 Februari 2014

Sepotong rindu

Hujan turun lagi. Kali ini aku hanya memandangnya dari jendela kerjaku. 
Mendengar suara gemereciknya saat jatuh ke tanah. 
Juga mencium bau tanah basah yang menguar menenangkan. 
Mana kopiku? Aku rindu...
Seperti rinduku padamu...

Minggu, 26 Januari 2014

ini gak jelas banget

ketemu tulisan ini di draft tapi lupa nulisnya pas apa ato pas gimana.... tapi kok lucu, jadi dipublish dulu deh walau gak jelas gini... hihi 

Jadi orang baik itu sulit, tapi bisa dipelajari.
ah! teorinya sih gitu ya, tapi jujur aja, rasanya sulit banget jadi orang baik buat semua orang. Kita nya yang harus korban perasaan dulu, ato makan ati sendirian. Apalagi kalo soal tahan-menahan emosi, saya mah bukan ahlinya. Saya itu orangnya blak-blakan, kalo ga suka ya bilang ga suka, kalo marah ya marah aja, kalo sedih ya nangis, kalo lagi seneng ya senyum-senyum aja :D
nah, kalo diharuskan menahan emosi saat lagi keseeeeeel banget?! ya susah lah.
tapi seperti yang saya bilang sebelumnya di awal paragraf.
Jadi orang baik itu sulitm tapi bisa dipelajari.
jadi orang sabar itu sulit, tapi bisa pasti bisaaaa.....

sampai lupa

 hai... sudah begitu lama... bukannnya aku tak ingin menulis lagi atau bagaimana... hanya saja terkadang aku tak punya waktu jika bisa dibil...