Sabtu, 12 Juli 2014

Long Distance Relationship

boleh dong lagi-lagi saya cuma upload lirik lagu......
kena bgt niii.. saya bangettt

RAISA

Ku teringat dalam lamunan 
Rasa sentuhan jemari tanganmu 
Ku teringat walau telah pudar 
Suara tawamu, sungguh ku rindu
 
Tanpamu langit tak berbintang 
Tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti 
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja 
Seandainya sang waktu dapat mengerti 
Takkan ada rindu yang terus mengganggu 
Kau akan kembali bersamaku

Ku teringat walau telah pudar 
Suara tawamu, sungguh ku rindu
Tanpamu langit tak berbintang
 Tanpamu hampa yang ku rasa

Seandainya jarak tiada berarti 
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja 
Seandainya sang waktu dapat mengerti 
Takkan ada rindu yang terus mengganggu 
Kau akan kembali bersamaku

Terbit dan tenggelamnya matahari 
Membawamu lebih dekat 
Denganmu langitku berbintang 
Denganmu sempurna ku rasa

Seandainya jarak tiada berarti 
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja 
Seandainya sang waktu dapat mengerti 
Takkan ada rindu yang terus mengganggu 
Kau akan kembali bersamaku
(seandainya jarak tiada berarti) 
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja 
Seandainya sang waktu dapat mengerti 
Takkan ada rindu yang terus mengganggu 
Kau akan kembali bersamaku

Kamis, 10 Juli 2014

menunggumu

terduduk kembali di tempat ini seperti hari-hari sebelumnya
menikmati secangkir kopi panas yang mengepul dari cangkirnya
mendengar lagu-lagu kita yang mengalun dari pengeras suara di sudut ruangan
sambil menunggumu kembali
atau hanya berharap kau akan kembali
 
 

Selasa, 03 Juni 2014

Namamu Terukir Dihatiku

Aku menikmati kopi pagiku dalam diam. Suara gemerecik air terdengar dari kolam di halaman samping dan matahari mulai menghangatkan pagi yang begitu dingin. Batu. Salah satu kota yang aku kunjungi beberapa tahun lalu. Kini aku kembali lagi ke tempat yang sama. Menikmati suasana yang nyaris sama seperti dulu. Ah, rasanya aku seperti berada dalam novel-novel karya Mira W dan Marga T yang dulunya sempat menjadi penulis favoritku. Aku bisa membayangkan plot dan adegan yang terjadi dengan menikmati suasana ini. Menikmati menjadi si gadis pemeran utama yang merasakan suasana pedesaan yang tenang. 

Namanya atila. Seorang gadis yang dijodohkan dengan anak kenalan orang tuanya.
Demi bisa kuliah ke Jakarta, Atila bersedia dijodohkan dengan anak dari sabahat ayahnya. Demikian juga Jiro, demi mendapat warisan, dia bersedia dijodohkan dengan anak dari sabahat ayahnya. Dan disinilah mereka berdua, Atila dan Jiro terikat dalam perkawinan.
Sejak menikah, mereka tinggal di rumah tantenya Jiro, Tante Nella, di daerah Kebayoran. Atila menempati kamar sendiri demikian juga Jiro.
Sedari awal, Jiro sudah mengatakan dengan tegas pada Atila ‘Jangan sampai teman2ku tahu kalau kau istriku. Katakan saja kita baru bertunangan’. ‘Lho koq ? Jadi apa yang dikatakan ibunya bahwa Jiro udah lama naksir aku, salah dong ?’ Atila gegetun.
Dari percakapan antar teman Jiro yang tanpa sadar didengar Atila, tahulah Atila, bahwa Jiro pernah disakiti oleh cewek dan kini memusuhi makhluk yang bernama cewek.
Kalau emang gak peduli dan musuhan ama cewek, kenapa sikapnya seperti interrogator yang penuh curiga terhadap teman-teman pria yang dikenal Atila ?
Jiro tidak suka melihat Atila akrab dengan Rio (teman kuliah Jiro) yang suka meminjamkan buku-buku detektif. Jiro juga terlihat agak marah waktu melihat Atila pulang diantar Robi. 
Karena Atila kuliah di daerah Grogol, dan agar dia tidak kelelahan pulang pergi Grogol – Kebayoran serta dengan ijin Jiro, dia kost di dekat kampusnya.
Dengan dalih tempat latihan tenisnya dekat kampus Atila, Jiro memiliki kunci kamar kost Atila agar bisa menyimpan peralatan sportnya. Atila yakin ini merupakan cara Jiro mengawasinya..
Keluguan Atila yang tidak merasa ada yang perlu disembunyikan malah berkibat buruk. 
Sewaktu menyambangi tempat kost Atila Jiro mendapatkan sepucuk surat yang diperuntukkan bagi Atila dari seseorang bernama Dani. Surat itu dibaca oleh Jiro dan membuat geram hatinya sebab salah satu kalimat dalam surat itu mengatakan bahwa nama Atila telah terukir dihati Dani.
Kecemburuan Jiro yang berlebihan yang katanya udah gak peduli sama cewek, menurut Atila tidak berdasar sebab Atila pernah memergoki Jiro asyik bercanda dengan Mona sambil rangkul-rangkulan. 
Tapi apa yang harus Atila lakukan kini ? Satu-satunya orang dimana dia berharap bisa sebagai tempat curhat, teman diskusi yang menyenangkan malah menuduhnya tidak setia. Dan ibunya menuduhnya kurang memperhatikan suami. 
Hatinya yang belia semakin bingung dan sedih manakala melihat Jiro yang semakin menjauh dan…puncaknya sewaktu Jiro mengatakan sebaiknya pernikahan ini tak usah diteruskan lagi. 
Sanggupkah ditanggungnya rasa malu sebagai janda di usia sembilan belas dan masih perawan….? Rasa sedih dan stress yang tanpa disadari membuat Atila jatuh sakit. Dan dalam igauannya dia memanggil Jiro….
daaaan.... akhirnya... silahkan dibaca sendiri ya

sampai lupa..... judulnya "Namamu Terukir Di Hatiku" karya Marga T

Rabu, 14 Mei 2014

26 Tahun Ku

hey.... yesterday was my birthday... 12 Mei kemarin (takutnya latepost)
jadi terhitung hari kemarin, umur saya udah 26 tahun.
Rasanya satu tahun berlalu begitu cepat, bahkan tahun-tahun sebelumnya.
Ah!!! sudah gak muda lagi T.T
Hari ini gapapa ya kalo bahasanya acakadul ga karuan dan ga jelas :p

Jadi, apa harapanmu untuk tahun berikutnya? atau paling simple, untuk tahun ini lah ya...


Hm.... saya bingung sendiri jika harus menjabarkan keinginan-keinginan saya yang begitu banyak bahkan mungkin tak terhitung. Rasanya begitu egois jika saya menyebutkan keinginan-keinginan saya padahal saya sudah diberi jauh lebih banyak dari apa yang saya minta.
Tuhan kok baik sekali sih sama saya?
Saya dikasih ini ... dikasih itu... dan yang paling bikin saya bersyukur banget adalah kesabaran dan kekuatan yang dikasih buat menghadapi lika-liku kehidupan yang makin lama makin berat (iya kaliii gituuuu).
Walau kadang ada beberapa hal yang bikin marah, jengkel, sedih atau kecewa berlebihan.... tapi saya seneeeeng banget bisa melewati banyak hal dengan cara saya.
Makasih ya tuhan bikin saya begini... bikin saya jadi saya yang sekarang....
Pokoknya semoga untuk hari-hari berikutnya saya bisa jauh lebih dewasa dalam bersikap, jauh lebih bijaksana dalam mengahadapi masalah, dan jauh lebih bisa mensyukuri apa yang saya dapat...
satu lagi tuhan! jangan biarkan saya yang udah banyak dosa ini nambah dosa dengan sirik-sirik ato benci-benci ato dendam-dendam sama orang lain yaaa... saya cuma pengen jadi orang baik kok... plisss yah tuhaaaann... jangan biarin saya jadi orang jahat... :')
Pokoknya sekali lagi makasi banget udah selalu ada di samping saya di segala macam bentuk keadaan... saya memang ga bisa liat, tapi saya tahu dan saya yakin kamu selalu ada di samping saya :)


Senin, 05 Mei 2014

Kau pasti akan datang, kan?

Kali ini aku lebih memilih sebuah Tea House dibanding kedai kopi yang terletak di sebelahnya. Bukan apa-apa, hanya saja perutku belum terisi apa pun sejak pagi tadi sedangkan waktu sudah melewati makan siang. Aku memilih tempat di sudut ruangan dengan sofa hijau daun dan meja cokelat kayu di depannya. Ruangan itu berdinding bata merah yang dibiarkan tanpa plesteran maupun acian. Salah satu dindingnya diberi wallpaper rumput dengan botol-botol minuman dan beberapa barang antik sebagai pajangan. 
Aku meneliti menu yang dibawakan salah satu pelayan dan langsung memesan apa yang kuinginkan. Tetap saja cokelat dingin yang menjadi pilihanku, bukan teh hijau atau minuman sehat lain yang juga tertera dalam menu. Sebagai pendamping cokelatku, aku memilih dimsum yang merupakan makanan ringan untuk mengisi lambungku. Ah, aku menunggumu begitu lama. Hingga malu rasanya aku berlama-lama menghabiskan waktuku sambil memainkan ponselku sedangkan aku hanya memesan sedikit makanan dan perutku rasanya belum mau diisi lagi. Tapi disinilah aku. Menunggu hingga kau datang menjemputku dengan senyummu yang sama. Kau akan selalu datang kan? 



Karena aku akan selalu menunggu....

Jumat, 28 Maret 2014

Ah! Aku Rindu Kamu!

Aku memasuki kedai kopi itu dengan gamang. Aroma khas nya kembali melesak memenuhi hidungku dan ada gelenyar aneh yang membuat jantungku berdetak beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya. Aroma Kopi. Ingat tidak pertama kali kau mengajakku ke kedai kopi yang sudah punya nama di Indonesia bahkan di dunia sekalipun itu?. Jujur saja, itu kali pertama aku menjejakkan kaki di sebuah kedai kopi. Atau begitulah seingatku. Aku lupa kopi apa yang kupesan, atau mungkin hanya segelas cokelat dingin yang masih selalu jadi favoritku sampai sekarang. Empat setengah tahun yang lalu. Nyaris lima tahun. Aku masih ingat saat itu aku begitu mengidolakan Michael Buble dengan lagu barunya yang bertajuk “Everything” saat itu. Aku jatuh cinta saat itu juga, bahkan pada hari-hari sebelumnya, hari pertama kita bertemu lagi setelah pertemuan-pertemuan sebelumnya yang aku pikir tidak akan pernah berarti buat kita. Perasaanku masih sama seperti saat itu, ingatanku tentangmu pun tak pernah berubah sekalipun. Aku pikir ini cinta. Begitukah?
Semalam aku membaca catatan harianku. Atau kalau bisa kubilang itu buku harianku, walau aku tak menulisnya setiap hari. Semuanya tentangmu. Bagaimana aku tergila-gila pada masa-masa awal dan penjajakan, bagaimana aku berduka ketika kau marah, bagaimana aku begitu putus asa ketika berbagai masalah menghantui kita berhari-hari bahkan berbulan-bulan jika aku meneliti tanggalnya. Juga bagaimana sulitnya kita menghadapi apa yang tejadi dan mengusahakan agar semua baik-baik saja. Ah! Aku rindu kamu. Sudah. Sebenarnya hanya itu yang mau aku bilang.


Where Rainbows End

Katanya mataku sembap. Ah, ya aku belum cerita ya kalau mataku punya sedikit masalah, bisa dibilang ia terlalu cepat bereaksi jika terjadi hal-hal kecil. Seperti menangis misalnya. Menangis sedikit saja bisa membuatnya terlihat seperti menangis berhari-hari dan hidup penuh dengan kesedihan sepanjang tahun. Oke, aku bohong lagi. Aku memang menangis semalam. Semalaman kalau bisa kutambahkan. Bukan, aku bukan menangisi diriku lagi. Kali ini aku membaca sebuah novel. Lucu memang. Entahlah, akhir-akhir ini hidupku berjalan begitu datar sampai-sampai aku sendiri lupa tentang berapa lama yang sudah kulewatkan dan bagaimana itu bisa terlewat begitu saja. Hari-hariku nyaris sama setiap hari dan isinya hanya tentang pekerjaan atau film yang sedang kutonton atau buku yang sedang kubaca. Bahkan aku tidak tertarik dengan gosip-gosip atau cerita miring yang sedang beredar di tempat kerjaku.
oke! aku akan kembali ke topik sebenarnya, karena kurasa aku sudah terlalu melantur jauh. Sebenarnya aku ingin membuat sebuah referensi tentang buka yang kubaca dua malam terakhir. Judulnya WHERE RAINBOWS END. Pengarang terkenal yang juga melejitkan novel berjudul Ps: I Love You ini memang sangat handal dalam menulis hal-hal kecil yang membuatmu menitikkaan air mata (setidaknya begitulah pendapatku). Cecilia Ahern.
Novel ini hanya berisi sekumpulan surat dan percakapan-percakapan yang dirangkum begitu apik oleh si penulis sehingga kita merasa menjadi salah satu pemeran utamanya. Kisah persahabatan Rosie dan Alex yang akhirnya menjadi cinta namun selalu terhalang oleh hal-hal mengejutkan sehingga mereka berukangkali melewatkan kesempatan untuk bersama. 
Hm, aku tak pandai menulis referenci buku memang, jadi sebaiknya kalian membaca sendiri bagaimana mendalamnya kisah itu. Bergumul dengan kejadian-kejadian masa lalu yang terbayang oleh rangkaian surat-surat singkat yang disuguhkan penulis. Tapi bersiaplah menghadapi emosi yang timbu ketika membacanya. 
Selamat membaca :) kalau kau memang pencinta fiksi romantis.


sampai lupa

 hai... sudah begitu lama... bukannnya aku tak ingin menulis lagi atau bagaimana... hanya saja terkadang aku tak punya waktu jika bisa dibil...